“Wuchereria bancrofti”
1. Klasifikasi
Filum : Nemathelminthes
Subfilum : Metazoa
Kelas : Nematoda
Famili : Dipetalonematidae
Genus : Wuchereria
Species : Wuchereria bancrofti

2. Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitive Wuchereria bancrofti adalah manusia. Cacing dewasa hidup di dalam saluran limfe, sedangkan microfilaria hidup di dalam darah dan limfe. Hospes perantara cacing ini adalah nyamuk.
Penyakit yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti:
a. Filariasis bankrofti (wukereriasis brankrofti)
b. Wuchereriasis
c. Elephantiasis

3. Morfologi
a. Cacing dewasa kecil, mirip benang dan berwarna putih kekuningan
b. Cacing dewasa ditemukan dalam kelenjar dan saluran limfe
c. Kutikula halus
d. Cacing jantan panjangnya kurang lebih 40mm dan diameternya 0,1 mm, mempunyai 2 spikula yang tidak sama panjangnya dan gubernakulum berbentuk bulan sabit
e. Cacing betina panjangnya 80-100 mm dan diameternya 0,24-0,3 mm dengan vulva terbuka sekitar 0,9 mm dari ujung anterior
f. Mulut tidak bersenjata, tidak ada rongga mulut tetapi mempunyai 2 baris pupil
g. Panjang mikrofilarianya sekitar 244-296 mikro meter
h. Mikrofilarianya aktif bergerak dalam darah dan limfe
i. Mikrofilarianya bersarung pucat (pewarnaan haematotoxylin), lekuk badan halus, panjang ruang kepala sama dengan lebarnya, inti halus dan teratur, tidak ada tambahan.

4. Distribusi Geografis
a. Parasit ini tersebar luas di daerah yang beriklim tropis diseluruh dunia dan terdapat di Indonesia.
b. Di belahan barat dunia dan ada di daerah perkotaan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus.
c. Di Pasifik Selatan dan ada di daerah pedesaan oleh nyamuk Aides Polynesiensis.

Gambar 1.1 Distribusi Geografis

5. Siklus Hidup
Cacing dewasa jantan dan betina hidup disaluran dan kelenjar limfe. Mikrofilaria ini hidup di dalam darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu tertentu (periodisitas). Pada umumnya, mikrofilaria Wuchereria bancrofti bersifat periodisitas noktuna, artinya mikrofilaria hanya terdapat di dalam darah tepi pada waktu malam. Pada siang hari mikrofilaria terdapat di kapiler alat dalam (paru-paru, jantung, ginjal, dan sebagainya). Di daerah Pasifik, microfilaria Wuchereria bancrofti mempunyai periodisitas subperiodik diurna, artinya terdapat di dalam darah pada siang dan malam, tetapi jumlahnya lebih banyak pada waktu siang.. Di Thailand terdapat microfilaria dengan periodisitas subperiodik nokturna.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi periodisitas mikrofilaria adalah kadar zat asam dan zat lemas dalam darah, aktivitas hospes ”irama sirkadian”, jenis hospes dan jenis parasit, tetapi secara pasti mekanisme periosiditas mikrofilaria tersebut belum diketahui.
Di daerah perkotaan, parasit ini ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus. Di pedesaan, vektornya berupa nyamuk Anopheles atau nyamuk Aedes. biasanya parasit ini tidak ditularkan oleh nyamuk Mansonia. Masa pertumbuhan parasit di dalam nyamuk kurang lebih dua minggu.
Untuk melengkapi daur hidupnya, Wuchereria bancrofti membutuhkan manusia (hospes definitive) dan nyamuk (hospes perantara). Nyamuk terinfeksi dengan menelan microfilaria yang terisap bersama-sama dengan darah. Didalam lambung nyamuk, microfilaria melepaskan sarungnya dan berkembang menjadi larva stadium 1 (L-1), larva stadium 2 (L-2) dan larva stadium 3 (L-3) dalam otot toraks dan kepala. Larva stadium 1 (L-1) memiliki panjang 135-375 mikron, bentuk seperti sosis, ekor memanjang dan lancip, dan masa perkembangannya 0,5-5,5 hari (di toraks). Larva stadium 2 (L-2) memiliki panjang 310-1.370 mikron, bentuk gemuk dan lebih panjang daripada L-1, ekor pendek membentuk kerucut, dan masa perkembangannya antara 6,5-9,5 hari (di toraks dan kepala). Larva stadium 3 (L-3) memiliki mobilitas yang cepat sekali, kadang-kadang ditemukan diprobosis nyamuk sehingga larva ini bersifat infektif dan ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk.
Apabila L-3 ini masuk ke dalam jaringan manusia kemudian masuk ke sistem limfatik perifer dan bermigrasi ke saluran limfe distal dan akhirnya ke kelenjar limfe dan tumbuh menjadi L-4 dan L-5 (cacing betina dewasa dan jantan dewasa). Cacing betina yang sudah matang dan gravid mengeluarkan microfilaria dan dapat dideteksi di daerah perifer dalam waktu 8-12 bulan pascainfeksi.

Gambar 1.2 Life Cycle of Wuchereria bancrofti

6. Epidemiologi
Parasit ini tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, meluas jauh ke utara sampai Spanyol dan ke selatan sampai Brisbane, Australia. Di sebelah timur dunia dapat ditemukan di Afrika, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia dan kepulauan Pasifik Selatan. Di belahan barat dunia di hindia barat, Costa Rica dan sebelah utara Amerika Selatan. Frekuensi filariasis yang bersifat periodik, berhubungan dengan kepadatan penduduk dan kebersihan yang kurang, karena culex quinguefascialus sebagai vektor utama, terutama membiak di dalam air yang dikotori dengan air got dan bahan organik yang telah membusuk. Di Daerah Pasifik Selatan frekuensi Filariasis nonperiodik di daerah luar kota sama tingginya atau lebih tinggi dari pada di desa-desa besar karena vektor terpenting ialah Aedes Polynesiensis, seekor nyamuk yang biasanya hidup di semak-semak. Frekuensi berbeda-beda menurut suku bangsa, umur, jenis kelamin, terutama berhubungan dengan faktor lingkungan. Orang Eropa, yang lebih terlindung terhadap nyamuk, mempunyai frekuensilebih rendah daripada penduduk asli.
Vektor utama di belahan Barat Dunia ialah Culex quinquefanciatus dan di Pasifik Selatan Aedes Polynesiensis. Nyamuk Culex quinquefanciatu menggigit pada malam hari, hidup di rumah dan daerah kota, sedangkan nyamuk Aedes Polynesiensis menggigit pada siang hari, hidup di luar rumah dan di daerah hutan. Di daerah Pasifik Selatan filariasis nonperiodik berbeda dengan yang periodik atas dasar perbedaan geografis dan perbedaan-perbedaan kecil pada cacing dewasanya. Periodisitas tidak berubah walaupun orang yang terkena infeksi berpindah ke daerah nonperiodik.
Di Indonesia filariasis tersebar luas di daerah endemi terdapat di banyak pulau di seluruh Nusantara, seperti di Sumatera dan sekitarnya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Irian Jaya. Untuk dapat memahami epidemiologi filariasis, kita perlu memperhatikan faktor-faktor seperti hospes, hospes reservoar, vektor, dan keadaan lingkungan.

7. Patologi dan Gejala Kliniks
Perubahan patologi yang utama terjadi akibat kerusakan inflamatorik pada sistem limfatik yang disebabkan oleh cacing dewasa, bukan mikrofilaria. Cacing dewasa ini hidup dalam saluran limfatik aferen atau sinus – sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe. Dilatasi ini mengakibatkan penebalan pembuluh darah di sekitarnya. Akibat kerusakan pembuluh darah, terjadi infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag di dalam dan sekitar pembuluh darah yang terinfeksi dan bersama dengan proliferasi endotel serta jaringan ikat, menyebabkan saluran limfatik berkelok – kelok serta katup limfatik menjadi rusak. Limfedema dan perubahan statis yang kronik terjadi pada kulit diatasnya.
Selain itu, gejala filariasis disebabkan oleh cacing dewasa baik yang hidup maupun yang mati atau yang telah mengalami degeneasi. Filarisasi bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun sehingga dapat mempunyai gambaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda dan beraneka ragam dan tidak mungkin stadium penyakit di batasi dengan pasti.
1. Filarisasi tanpa gejala
Di daerah endemik, pada anak-anak berumur 6 tahun telah dapat ditemukan mikrofilaria didalam daerah tanpa menimbulkan gejala yang menunjukkan adanya infeksi ini. Bahkan, pada waktu cacing dewasa mati microfilaria menghilang, penderita tetap tidak menyadari akan adanya infeksi.

2. Filarisasi dengan peradangan
Infeksi filariadengan peradangan merupakan fenomena alergi berdasarkan kepekaan terhadap metabolit cacing dewasa yang hidup dan yang mati. Funiculitis , Epidydimitis, Orchitis, Limforgitis retrograde dari anggota tubuh, pembengkakakn setempat dan kemerahan lengan dan tungkai merupakan gejala-gejala yang khas dari serangan yang berulang-ulang. Demam menggigil, sakit kepala, muntah dapat menyertai serangan tadi, yang berlangsung antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Yang terutama terkena ilah saluran limfe tungkai dan alat genital. Pada laki-laki umumnya terdapat Limfongitis akut dari funiculus spermaticus (funiculitis) disertai penebalan dan rasa nyeri, Epydidimitis, jaringan retroperitoneal, kelenjar ari-ari, dan otot ileo-psoas juga dapat terjadi karena cacing yang mati dan mengalami degenerasi.

3. Filarisasi dengan penyumbatan
Gejala akhir yang dramatic pada filarisasi ialah elephantiasis. Penyumbatan pada filariasis terjadi perlahan-lahan, biasanya setelah terkena infeksi dengan filarial secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Kelainan ini didahului oleh edema menahun dan sering juga oleh serangan peradangan akut yang berulang-ulang.
Dalam stadium menahun reaksi reaksi sel dan sembab diganti oleh hiperplasi fibroblast. Terhadap penyerapan dan pergantian parasit oleh jaringan granulasi yang proliferative. Dibentuk varises saluran limfe yang luas. Kadar protein yang tinggi didalam limfe merngsang pembentukan jaringan ikat kulit dan kolagen, dan sedikit demi sedikit setelah bertahun-tahu. Bagian yang membesar menjadi keras dan timbul elephantiasis menahun. Elephanthiatis pada umumnya mengenai tungkai dan alat kelamin dan menyebakan perubahan bentuk yang luas.

Gambar 1.3 elephantiasis

8. Diagnosis
Diagnosis filariasis hasilnya lebih tepat bila didasarkan pada anamnesis yang berhubungan dengan vector di daerah emdemis dan di konfirmasi dengan hasil pemeriksaan laboratorium. Bahan pemeriksaan adalah darah yang di ambil pada malam hari. Sediaan darah tetes tebal yang diperoleh dari penderita, langsung diperiksa dengan mikroskop untuk melihat adanya microfilaria yang masih bergerak aktif, sedangkan untuk menetapkan spesies filarial dilakukan dengan membuat sediaan darah tetes tebal dan hapus tipis yang diwarnai dengan larutan Giemsa atau Wright.
Untuk mengetahui infeksi ringan, dilakukan dengan cara mengambil 1 ml darah penderita yang dicampur dengan 10 cc larutan formalin 2%. Endapan darah diambil dan diperiksa langsung atau diwarnai. Disini bisa diketahui densitas microfilaria dalam darah.
Dalam darah penderita dengan gejala filariasis tidak selalu ditemukan microfilaria. Kira-kira setelah satu tahun pasca infeksi, larva menjadi cacing dewasa dan mengeluarkan microfilaria. Pada bulan pertama terjadi gejala filariasis yang disertai peradanga. Pada gejala ini tidak ditemukan microfilaria dalam darah. Ada kemungkinan, pada stadium lanjut setelah terjadi gejala elephantiasis, biasanya cacing dewasa dan microfilaria sudah mati. Tes intradermal dengan menggunakan antigen Dirofilaria, reaksi ikatan komplemen, hemaglutinasi, dan flokulasi juga baik untuk diagnosis bila microfilaria sulit di temukan dalam darah. Bila microfilaria Wuchereria bancrofti dapat ditemukan dalam urin penderita kiluria, microfilaria ini dapat dipisahkan dengan cara sentrifugasi. Microfilaria akan banyak ditemukan bila urin penderita banyak mengandung cairan kiluria.
Hal-hal yang penting dalam Pemeriksaan Laboratorium
1. Anamnesis penting untuk mengetahui pengambilan bahan pemeriksaanyang terbaik maupun waktu pengambilan yang tepat untuk penentuan spesies filaria yang dicurigai.
2. Ciri-ciri khas microfilaria Wuchereria bancrofti adalah lekuk tubuh halus, inti tubuh teratur, tidak ditemukan inti pada ekor, ruang kepala tidak terisi, dan inti panjang sama dengan lebarnya.
3. Supaya sarung microfilaria dapat diwarnai dengan hasil yang baik, biasanya digunakan pewarnaan hematoksilin (hematoksilin Delafield) karena sarung tidak bias diwarnai dengan larutan Giemsa.
4. Untuk mendeteksi microfilaria dalam darah tepi dapat dilakukandengan teknik Knot (konsentrasi membran).
5. Untuk mendeteksi cacing dewasa dalam cairan atau kelenjar limfe dapat dilakukan dengan sinar rontgen.
Selain itu, diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium :
1. Diagnosis Parasitologi
a. Deteksi parasitologi: menemukan mikrofilaria di dalam darah, cairan hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal, teknik konsentrasi Knott, membran filtrasi dan tes provokatif DEC. Pengambilan darah dilakukan malam hari mengingat periodisitas mikrofilarianya umumnya nokturna. Pada pemeriksa histopatologi, kadang-kadang potongan cacing dewasa dapat dijumpai di saluran dan kelenjar limfe dari jarngan yang dicurigai sebagai tumor.
b. Diferensiasi spesies dan stadium filaria : menggunakan pelacak DNA yang spesies spesifik dan antibodi monoklonal untuk mengidentifikasi larva filaria dalam cairan tubuh dan dalam tubuh nyamuk vektor sehingga dapat membedakan antara larva filaria yang menginfeksi manusia dengan yang menginfeksi hewan. Penggunaannya masih terbatas pada penelitian dan survei.
2. Radiodiagnosis
a. Pemeriksaan dengan ultrasonografi ( USG ) pada skrotum dan kelenjar getah bening ingunial pasien akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign). Ini berguna terutama untuk evaluasi hasil pengobatan.
b. Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang ditandai dengan adanya zat radioaktif menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada penderita yang asimptomatik mikrofilaremia.
3. Diagnosis imunologi
Dengan teknik ELISA dan immunochromatographic test ( ICT ). Kedua teknik ini pada dasarnya menggunakan antibodi monoklonal yang spesifik untuk mendeteksi antigen W.bancrofti dalam sirkulasi. Hasil tes yang positif menunjukkan adanya infeksi aktif walaupun mikofilaria tidak ditemukan dalam darah.
Pada stadium obstruktif, mikrofilaria sering tidak ditemukan lagi di dalam darah, tetapi ada di dalam cairan hidrokel atau cairan kiluria.

9. Pengobatan
Obat utama yang digunakan adalah dietilkarbamazin sitrat ( DEC ). DEC bersifat membunuh mikrofilaria dan juga cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC merupakan satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis bankrofti, dosis yang dianjurkan adalah 6mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filaria brugia, dosis yang dianjurkan adalah 5mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, artralgia, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis brugia, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi waktu pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama.
Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematode dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC.
Pengobatan kombinasi dapat juga dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC. Yang dapat diobati adalah stadium mikrofilaremia, stadium akut, limfedema, kiluria, dan stadium dini elefantiasis.
Terapi suportif berupa pemijatan dan pembebatan juga dilakukan di samping pemberian antibiotika dan corticosteroid, khususnya pada kasus elefantiasis kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.

10. Pencegahan
Pencegahan terhadap wuchereriasis di daerah endemic meliputi pemberantasan nyamuk dan mematikan parasit dalam badan manusia yang merupakan sumber infeksi. Penyemprotan residu di dalam rumah dan pemakaian larvisida dapat berhasil terhadap Culex quinquefasciatus dan nyamuk domestic lainnya. Akan tetapi cara pemberantasan ini tidak efektif terhadap nyamuk yang hidup di daerah rimba seperti Aides polynesiensis. Pemberian Hetrazan secara masal untuk membasmi microfilaria di dalam darah para pengandung dan pemakaian insektisida untuk pemberantasan nyamuk berhasil baik di St.Croix, Virgin Islands dan Tahiti. Perlindungan manusia dengan menutup ruangan dengan kasa kawat, kelambu tempat tidur, “repellent” nyamuk, pakaiann yang melindungi, merupakan persoalan ekonomi dan pendidikan. Obat DEC tidak mempunyai khasiat pencegahan oleh sebab itu penduduk perlu dididik untuk melindungi dirinya dari gigitan nyamuk.

DAFTAR PUSTAKA

Browen, H.W.1979. Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta: PT Gramedia.
Gandahusada, S. Dkk. 1998.Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

http://medicafarma.blogspot.com/2008/06/filariasis.html

http://www.wartamedika.com/2008/11/penyakit-kaki-gajah.htm

About these ads